TUGAS MANDIRI 6
Hak untuk Mengkritik: Esensi Demokrasi dalam Dunia Mahasiswa
Nama: Dennis Ramadhan
NIM: 43125010225
Abstrak
Hak untuk mengkritik itu penting banget dalam kehidupan mahasiswa, karena jadi salah satu cara buat nyampein pendapat, saran, dan respon atas sesuatu yang nggak sesuai. Di lingkungan kampus, kritik sering muncul lewat diskusi kelas, organisasi mahasiswa, sampai media sosial. Artikel ini ngebahas gimana kritik itu bisa jadi wujud demokrasi, tapi tetap butuh etika biar nggak malah ngerusak. Intinya, mahasiswa punya peran penting untuk berani ngomong, tapi tetap bertanggung jawab.
Kata Kunci: hak warga negara, kritik, demokrasi, mahasiswa, kampus
Pendahuluan
Dalam kehidupan bernegara, setiap warga punya hak masing-masing, salah satunya hak buat ngomong dan ngasih kritik. Di materi pembelajaran kewarganegaraan, dijelasin kalau hak ini dilindungi undang-undang dan nggak bisa seenaknya dibatasi kecuali kalau udah mengganggu kepentingan umum. Nah sebagai mahasiswa, kita sering ketemu situasi di mana kita perlu ngomong, misalnya kebijakan kampus yang ribet, sistem perkuliahan yang tiba-tiba berubah, atau pelayanan akademik yang bikin pusing. Kritik itu jadi bagian dari proses belajar kita biar terbiasa mikir kritis dan peduli sama lingkungan.
Permasalahan
Walaupun kritik itu hak, faktanya di kampus sering muncul beberapa masalah kayak:
- Banyak mahasiswa takut mengkritik karena takut dinilai jelek sama dosen atau kampus.
- Ada juga kritik yang nyerempet jadi hujatan karena emosi, bukan solusi.
- Kadang kritik cuma di medsos tanpa lewat jalur resmi, jadinya nggak jelas siapa yang bertanggung jawab.
- Beberapa mahasiswa cuek, mikir “yaudah lah wkwk” padahal yang kena dampaknya semua juga.
Hal-hal kayak gitu bikin hak mengkritik jadi kurang maksimal.
Pembahasan
Hak mengkritik dilindungi dalam UUD 1945 terutama pada bagian kebebasan berpendapat. Di materi pembelajaran HAM, dijelasin kalau setiap orang berhak menyampaikan pendapat baik lisan atau tulisan. Di kampus, bentuknya bisa macem-macem: saran di kelas, forum BEM, rapat organisasi, bahkan surat terbuka.
Tapi, kritik yang bener itu ada etikanya, nggak cuma nyalahin tanpa data. Kalimat “kampus buruk” tanpa alasan ya sama kayak gibah. Kritik idealnya:
- Fokus ke masalah, bukan orangnya,
- Ada bukti nyata,
- Ngasih opsi saran,
- Disampaikan sopan.
Sebagai mahasiswa, ngasih kritik itu bukan cuma hak, tapi juga tanggung jawab moral. Kalau kita cuma diem, nggak akan ada perbaikan. Justru lingkungan kampus itu miniatur demokrasi. Kalau di kampus aja kita udah takut ngomong, nanti gimana pas masuk dunia kerja atau masyarakat?
Selain itu, perkembangan teknologi bikin kritik makin luas. Zaman sekarang, satu postingan bisa langsung viral. Ini positif, tapi juga bisa bahaya kalau nggak dikontrol. Makanya, literasi digital penting banget.
Kesimpulan
Hak mengkritik adalah hal penting yang relevan banget buat mahasiswa. Lewat kritik, kita bisa bantu memperbaiki sistem di kampus, ningkatin kualitas pendidikan, dan nunjukin kalau mahasiswa itu peka sama lingkungan. Tapi, kritik harus tetap ada etikanya supaya nggak jadi masalah baru. Intinya, berani ngomong boleh, tapi jangan asal bunyi.
Saran
- Mahasiswa harus belajar ngasih kritik yang membangun, bukan nyerang orang.
- Kampus harus lebih terbuka menerima kritik, bukan malah ngecap negatif yang ngomong.
- Media atau forum resmi kampus perlu diperkuat biar kritik lebih terarah.
- Dibutuhkan literasi digital biar kritik di medsos nggak jadi toxic.
Daftar Pustaka
- Materi Pembelajaran 1 – Hak dan Kewajiban Warga Negara (Kewarganegaraan)
- UUD 1945 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat
- Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum
- Artikel jurnal terkait etika kritik di lingkungan kampus (2023)

Komentar
Posting Komentar